Contoh Identifikasi Isu Beserta Tahapanya - Maskapai Air Asia - Alfan.id

Campus Project Est. 2015

Update

Minggu, 07 April 2019

Contoh Identifikasi Isu Beserta Tahapanya - Maskapai Air Asia

CONTOH IDENTIFIKASI ISU BESERTA TAHAPANYA
MASKAPAI AIR ASIA

TRAGEDI PESAWAT QZ8501

#Note :
  • Tugas ini adalah sebuah refrensi yang dikirim oleh Fauzi Setyaditama
  • Apabila ingin mengutip silahkan cantumkan sumber yang jelas
  • Tidak untuk di Copas
  • Dilarang mengambil atau meniru konten dari postingan ini tanpa seizin penilis

I. Latar Belakang


Jakarta (17/6)-Sudah 6 bulan berlalu sejak Pesawat AirAsia dengan nomor penerbangan QZ 8501 dikabarkan hilang kontak pada hari Minggu 28/12/2014 pagi. Pesawat jenis Airbus 320-200 tersebut terbang dari Surabaya dan berencana menuju Singapura.


Pesawat ini lepas landas dari Bandara Udara Internasional Juanda pada pukul 05:35 Waktu Indonesia Barat (UTC+7) dan dijadwalkan untuk mendarat di Singapura pada pukul 08:30 WSS (UTC+8). Pesawat kehilangan kontak dengan pengatur lalu lintas udara pada pukul 07:00 waktu setempat saat sedang terbang di atas laut Jawa. Pesawat yang mengangkut 162 penumpang dan awak tersebut dinyatakan hilang dan di hari ketiga pencarian dipastikan pesawat jatuh ke laut Jawa.


Bagi maskapai penerbangan komersial apapun dan di manapun di dunia, kecelakaan pesawat adalah tragedi yang paling fatal tutur Audrey Progastama Petriny Head of Corporate Secretary and Communications pada saat menjadi narasumber di acara Guest Lecture yang diadakan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi, tapi AirAsia optimistis mampu bangkit dan melewati musibah serta kembali berkompetisi dalam bisnis penerbangan low cost carrier atau LCC dan terbukti 4 bulan pascakecelakaan QZ 8501 rute Surabaya-Singapura maskapai tersebut keluar dari krisis dan berhasil melakukan rebranding.


II. Pembahasan



Berbeda dengan tanggapan masyarakat paska tragedi yang menimpa maskapai penerbangan kompetitor pada tahun 2007, AirAsia dinilai tanggap dan responsif dalam menanggapi musibah tersebut. Salah satunya ditunjukkan melalui respon positif masyarakat terhadap postingan CEO AirAsi karena pada saat diketahui pesawat hilang kontak, CEO Air Asia Tony Fernandes langsung mengucapkan bela sungkawa-nya melalui akun twitter-nya @tonyfernandes “My heart is filled with sadness for all the families involved in QZ 8501. On behalf of AirAsia my condolences to all. Words cannot express how sorry I am.” yang langsung mendapatkan respon positif dari khalayak. 


Selain itu, sejak resmi dinyatakan hilang pada 28 Desember, Tony Fernandes langsung terbang ke Surabaya guna menjumpai sekaligus berkomunikasi langsung dengan keluarga penumpang serta keluarga para crew pesawat AirAsia QZ8501.



Dari sisi media, sebelum menghadapi krisis jatuhnya pesawat QZ8501 rute Surabaya-Singapura, dinilai Wartawan Senior Harian Suara Merdeka Budi Nugaraha, tim Public Relations AirAsia Indonesia cukup dekat dengan media. Bahkan, jika dibandingkan dengan maskapai penerbangan low cost carrier lainnya di Tanah Air, tim PR AirAsia Indonesia tergolong lebih akrab, jauh lebih terbuka dan transparan dengan media.

Hal serupa diungkapkan oleh Ibu Audrey, untuk mempermudah komunikasi keluarga dan kerabat paska kecelakaan AirAsia langsung membuka Emergency Operation Centre AirAsia dan memberikan informasi terkini melalui website AirAsia, www.airasia,com. Logo maskapai di media sosial juga berubah menjadi abu-abu yang lebih muram dan hanya putih. Sebelumnya logo itu berwarna merah cerah.


Semua tampilan media digitalnya juga berubah menjadi lebih gelap. Mulai dari website, Facebook, sampai Twitter, semuanya diisi dengan warna abu-abu. Pihaknya sengaja menggunakan warna hitam (simbol duka), warna gelap di media sosial juga dinilai ampuh untuk memperkuat pesan-pesan pada konten yang disebarkan. 


Di samping itu AirAsia juga memisahkan call centre antara awak media dengan keluarga. Setiap hari AirAsia mengeluarkan press release menjaga agar komunikasi tidak terputus. Selain itu mereka juga menyediakan ‘caregiver’ relawan dari karyawan AirAsia yang menjadi pendamping keluarga korban, bahkan CEO-nya memberikan nomor ponsel pribadi yang siap dihubungi oleh pihak keluarga kapan saja.



III. Tahapan Krisis yang dialami

  1. 10 Januari 2011 - AirAsia AK 5218 tergelincir dari landasan pacu Bandar Udara Internasional Kuching. 4 orang mengalami cedera ringan sehingga akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Umum Sarawak untuk mendapat perawatan.
  2. 28 Desember 2014 -AirAsia QZ8501, berangkat dari kota Surabaya dari Bandara Juanda menuju ke Bandara Changi, Singapura, hilang kontak dengan kontrol lalu lintas udara (ATC, air traffic control). Operasi pencarian dan penyelamatan telah dilaksanakan setelah kejadian tersebut. Tercatat 162 orang termasuk 7 awak, dengan mayoritas penumpang dilaporkan merupakan warga negara Indonesia pada pesawat bermodel Airbus A320-216 ini. Pilot telah meminta menaikkan ketinggian dari 32.000 ke 38.000 kaki karena menghindari cuaca buruk. Cuaca buruk kemungkinan menjadi faktor penyebab hilangnya pesawat tersebut.
  3. 30 Desember 2014 - AirAsia Zest Z2272 tergelincir di Bandara Internasional Kalibo, Filipina [5]. AirAsia Z2272 merupakan pesawat jenis Airbus A320 dengan rute Manila ke Bandara Internasional Kalibo, dekat kawasan turis Boracay, Filipina. Peristiwa ini disebabkan karena badai tropis Seniang. Tak ada korban dalam insiden ini.

IV. Kesimpulan




Hal yang terpenting pada saat menghadapi krisis adalah budaya “sense of belonging” dari karyawan AirAsia yang memiliki sebutan “All Star” dan memiliki filosofi “All for One, One for All” . Manajemen AirAsia berhasil menciptakan suasana kerja yang nyaman, atasan dekat dengan karyawan, menjadikan kantor sebagai rumah kedua bagi karyawan dan kental dengan rasa kekeluargaan, karena di saat krisis loyalitas karyawan teruji. ( Fauzi Setyaditama | 2016 )


" Contoh Identifikasi Isu Beserta Tahapanya "

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad